THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 21 Januari 2009

baca novel aku


KEINGINAN LETHA

aku memandang jendela kapal jurusan Tarakan-Tanjung Selor. Hatiku masih terasa sakit akibat pertengkaran yang Mama dan Papa lakukan setiap hari. Aku sudah berusaha untuk mendamaikan mereka berdua. Namun, rasanya hal itu tidak akan dapat mengubah mereka.

Aku merasa yakin bahwa pergi ke rumah Eyang adalah hal yang tepat yang aku lakukan. Aku yakin jika jauh dari Mama dan Papa adalah hal yang terbaik, walaupun terkadang ada orang yang berfikir bahwa itu adalah tindakan yang tidak baik untuk dilakukan. Semua ini aku lakukan karena aku sangat tidak sanggup jika seumur hidupku harus menyaksikan pertengkaran orang tuaku.

Lamunanku membuatku tidak sadar bahwa kapal yang aku tumpangi telah sampai di pelabuhan, para penumpang segera turun dan mengejar bus jurusan ke kampung halaman Eyang. Aku juga sibuk seperti penumpang yang bertujuan sama dengan aku.

Setelah sampai di dalam bus aku segera mengambil tempat. Aku mesih lelah dengan perjalanan menuju ke rumah Eyang. Aku hanya melihat-lihat ke luar, melihat indahnya pemandangan desa yang ada di Tanjung Selor. Tak terasa bus jurusan desa Anjur-Anjis telah sampai di terminal, aku segera turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sekitar 30 menit berjalan kaki sambil menghirup udara segar alami di desa Eyang, aku kembali teringat dengan orang tuaku, aku selalu membayangkan betapa indahnya jika kedatanganku ini bersama mereka. Namun, aku sadar hal itu mungkin tidak akan ada.

Sesampainya di depan teras rumah Eyang, aku segera mengetuk pintu.

“Cucuku…, tumben kemari? Kangen ma Eyang ya?” tanya Eyang ketika aku sampai.

“Ya, iyalah, Yang, aku kangen ma Eyang nich! Kebetulan aku liburan, jadi aku ke sini dech Yang” jawabku

“Lo?Kakak Scarlet udah datang? Ayo masuk,” Veila, sepupuku yang baru datang dari belakang.

“Iya nich Vei, Kakak capek, rasanya pegel, mau istirahat sebentar,” jawabku asal-asalan karena aku lagi bingung karena pertengkaran Mama dan Papa.

“Eyang bantuin bawa tas Leta ya,” Eyang membawa tasku.

“Jangan,Eyang!jangan bawa yang berat dong Yang,” kata veila.

“Eyang masih kuat Vei,” kata Eyang.

“Udahlah Yang. Scarlet marah nich lo Eyang masih ga mau nurut ma Veila,” kataku.

“Iya,” ucap Eyang

“Kalo gitu Veila aja yang bantuin Kakak bawain tasnya,” ucap Veila

“Ya gitu donk baru sepupu aku. Ya aku bantuin bawa juga,” kataku

“Eyang bikinin teh Ijo dulu, tapi Eyang petik dulu daun tehnya,” kata Eyang.

“Ya. Tapi Veila ikut petik daunnya,” kata Veila

“Scarlet juga mau ikut?” tanya Eyang

“Aku di sini aja Yang, aku mau istirahat,” jawabku

“Kalo gitu Eyang sama Veila pergi dulu Ya Let,” kata Eyang

“Ya,” kataku

Eyang dan Veila pergi ke kebun teh yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah Eyang. Ketika Eyang pergi memetik teh, aku segera menaruh tasku ke kamar yang memang milikku sejak aku bayi. Ruangan ini mengingatkanku pada masa kecilku dimana aku bermain dengan orang tuaku.

Tiba-tiba handphone aku berbunyi, ada satu buah pesan singkat.

“Leta, mama dan papa memutuskan untuk bercerai. Papa harap kamu datang ke acara itu, dan menerima keputusan cerai itu”.

Aku menangis membaca pesan singkat itu, sangat mudahnya Papa menulis sms seperti itu. Apakah mereka tidak akan menuruti satu keinginanku.

Aku pergi keluar kamar untuk menghilangkan rasa sedihku akibat sms Papa. Aku melihat-lihat rumah Eyang. Masih banyak yang belum berubah dari rumah Eyang. Aku melihat foto ketika aku masih bayi hingga berumur 6 tahun masih diletakkan Eyang di tempat yang sama, dan itu sama sekali belum berubah. Aku mengingat kembali kenangan masa lalu bersama orang tuaku. Dahulu, Papa hanya seorang petani, dan Mama hanya seorang yang bertugas mengasuhku. Walaupun hidup sederhana, aku bahagia karena papa dan mama tidak pernah marah-marah. Aku masih dapat menyaksikan ekspresi papa ketika melucu, papa menarik kupingnya dan membuat kami tertawa. Namun, hal itu tidak akan mungkin ada.

Setelah melihat-lihat foto itu, tak terasa sebutir air menetes mengenai pipiku, aku tidak menyadarinya sampai Eyang menghapusnya.

“Scarlet…Sudahlah jangan hiraukan pertengkaran orang tuamu. Eyang mengerti bagaimana kamu,” kata Eyang, mengagetkanku.

“Hah Eyang, Enggak kok, Scarlet ga inget pertengkaran Mama dan Papa kok Yang,” kataku berohong karena tidak ingin Eyang sedih

“Kamu udah jadi cucu Eyang lama banget. Eyang sudah tahu semua darimu,” ucap Eyang.

“Iya,Yang.Aku sedih kenapa papa mama selalu …”.

Aku sengaja tidak meneruskan ucapanku karena Veila datang.

“Teteh ayo kita bikin teh hijau,” ucap Veila

“Ayo Let,” ajak Eyang juga

“Ayo,” Kataku

Setelah membuat teh hijau, aku segera pergi ke kamar. Di kamar, aku tidak bisa tidur karena aku masih teringat kenangan bersama orang tuaku. Ketika itu aku bisa bermain dengan Papa Mama di teras, di kebun teh, dan kebun sayur Eyang. Menghias kamar dengan hiasan Marsupillami, yang ternyata masih ada hingga sekarang. Namun, hal itu tidak akan ada bahkan mungkin hilang untuk selama-lamanya.

“Scarlet…Let,”panggil Eyang

“Hah?” Aku melotot melihat jam yang menunjukkan pukul 16.30.

“Let,bangun kamu belum Sholat?” tanya Eyang.

“Iya,”kataku.

Setelah mengerjakan sholat, aku segera keluar rumah dan melihat ada Pakde dan Bude di teras.

“Let udah bangun?” tanya Pakde

“Ya Nich Pakde,” jawabku

“Kita bakar jagung yuk,” ajak pakde

“Boleh tu,” jawabku

“Asyik bakar jagung,” ucap Veila

“Kalo gitu kita ke ladang Pakde sekarang,” ajak Pakde

Kami semua akhirnya membakar jagung yang diambil dari ladang. Jagung bakar ini sangat enak sekali.

Selesai makan jagung bakar, Pakde segera menyuruhku kembali ke rumah Eyang, karena takut kalau Eyang mencariku.

Sesampainya di rumah Eyang ,aku segera mencarinya, karena aku sangat sayang dengannya.

“Eyang Scarlet pulang nich,” kataku

Eyang hanya diam saja, aku merasa heran kenapa Eyang diam.

Tak beberapa lama Eyang akhirnya berbicara kepadaku.

“Let,kenapa kamu tidak pernah cerita ke Eyang kalau Mama Papa mu sudah mempunyai pacar baru?” tanyanya

“Scarlet bukannya lupa atau apa Eyang. Aku nich takut kalau Eyang marahi Mama Papa,” jawabku

“Eyang tahu semua yang dilakukan sama Mama dan Papa kamu Let,” kata Eyang

“Loch Eyang tahu darimana?” tanyaku bingung

“Kamu gak perlu tahu dari siapa,dan siapa yang memberitahu Eyang tentang Mama dan Papa kamu,” jawab Eyang.

“Scarlet tahu Eyang, apa saja yang dilakukan Mama dan Papa, tapi Scarlet gak mau Eyang juga kepikiran tentang Mama dan Papa, Leta gak mau kalau Eyang juga ikut sedih dengan pertengkaran mereka Yang,” kataku

Tiba-tiba aku merasa kepalaku pusing, aku melihat keadaan disekitarku bergoyang-goyang.

”Let udah baikkan?” tanya Eyang yang ada di depanku sambil tersenyum

“Leta kenapa Yang?” tanyaku

“Kakak tadi pingsan,” Veila menjawab pertanyaanku.

“Ya udah kalo gitu Eyang pergi menemui dokter dulu ya,” ucap Eyang

Aku hanya menganggukkan kepala pada Eyang. Aku mengerti betapa sayangnya Eyang padaku melebihi sayangnya Mama dan Papa kepadaku.

“Lo kok diem sich Kak?” tanya Veila

“Ya diem lah. Kamu nich, masa orang sakit disuruh ngomong, bukan sakit dong namanya, tapi sakit bohongan,” jawabku

Veila tertawa mendengar jawaban yang aku berikan padanya. Aku pun juga tertawa dengan jawaban itu.

Di ruang Dokter, Eyang membicarakan sesuatu yang nampaknya sangat serius.

“Begini Bu, sebenarnya cucu Ibu itu seperti menderita kanker darah, tapi saya belum begitu yakin penyakit itu ada atau tidak. Apakah Ibu keberatan jika diadakan pemeriksaan lebih intensif pada cucu Ibu itu?” tanya Dokter Lingxy

“Kalau itu yang terbaik untuk cucu saya, Dokter silahkan periksa dia lebih lanjut, kasihan dia Dok, banyak masalah yang seharusnya tidak dia hadapi,” jawab Eyang.

“Sebenarnya kita bisa melakukan pemeriksaan sekarang juga, tapi berhubung jam besuk sudah tutup, lagian gak enak juga sama yang lain, lebih baik besok saja Leta diperiksa,” kata dokter Lingxy

“Jadi cucu saya sudah boleh pulang?” tanya Eyang

“Ya. Tapi jangan sampai Leta kecapaian,” jawab Dokter Lingxy

“Terima kasih, Dok,” kata Eyang

Eyang akhirnya keluar dari dalam ruangan dokter itu.

Aku melihat Eyang masuk ke ruangan ini dengan mata sembab, aku heran dengan Eyang. Apakah dia habis menangis?, tanyaku dalam hati.

“Let, kamu udah lebih baek?” tanya Eyang

“Ya Yang, Eyang habis nangis ya?” tanyaku

“Kamu nich ada-ada saja, Eyang ini kelilipan aja kok,” jawab Eyang.

Aku hanya tersenyum saja atas jawaban Eyang. Walaupun sebenarnya aku tahu bahwa Eyang pasti berbohong.

Maafkan Eyang Let, Eyang belum berani mengatakan vonis dokter Lingxy kepadamu, kata Eyang di dalam hati.

Yeach kok diem si! kita jadi pulang gak ni Yang?” tanya Veila yang dari tadi merasa di cuekkin.

“Ya dong Vei. Kamu bantuin Leta jalan ya!” pinta Eyang pada Veila

“Kok pake bantuan Veila sich Yang? Aku kan bisa jalan sendiri Yang,” kataku

“Kamu ini nurut aja ma Eyang,” Kata Veila

“Ya Let, lagian kamu itu masih dalam kondisi lemah,” sambung Eyang

Aku hanya menurut saja dengan perintah Eyang, aku menurut pada Eyang karena hanya Beliau satu-satunya tempat aku mendapat kasih sayang yang tidak pernah diberikan oleh Mama dan Papa semenjak aku di Surabaya.

Sesampainya dirumah, aku segera disuruh beristirahat oleh Eyang.

“Let kamu istirahat ya, tapi jangan lupa selalu berdoa dan sholat,” kata Eyang

“Ya,” jawabku

“Jangan juga kamu sering-sering mengingat pertengkaran orangtuamu,” kata Eyang.

“Ya Yang, Eyang kok aneh dan paranoid gitu?” tanyaku

“Pokoknya kamu istirahat, Eyang bikinin bubur kacang hijau dulu, Veila udah pulang jadi kamu istirahat, jangan jalan-jalan,” kata Eyang.

“Ok dech,”kataku padanya

Eyang kemudian pergi meninggalkan aku di kamar. Aku hanya menurut saja dengan perintah Eyang, aku ingin Eyang gembira.

Aku pergi dari kamar, aku ingin mengambil segelas air putih, namun aku mendengar Eyang menelepon seseorang.

“Ya Hedi. Leta anak kamu satu-satunya itu sedang sakit,” kata Eyang

“Ya Bu dia itu hanya pura-pura saja, saya gak mau pergi ke Tanjung Selor, lagian siapa yang suruh dia ke rumah Ibu kan,” jawab Hedi yang tak lain adalah Papa Scarlet.

“Ya sudah kalau gak percaya ma Ibu. Pokoknya Ibu udah kasih tahu kamu. Assalamualaikum,” kata Eyang.

Selesai menutup telepon, Eyang berjalan menuju dapur, aku mengikutinya dari belakang.

Loch kamu Let gak jadi istirahat? Mulai nakal nich ya gak nurut ma Eyang?” tanya wanita itu.

“Aku hanya ingin mengambil air saja,” jawabku singkat

Selesai minum, aku segera kembali ke kamar dan berbaring mengingat percakapan Eyang di telepon bersama Papa. Aku tahu memang aku terkena penyakit kanker darah sejak aku masih SMA. Aku sadar bahwa tak lama lagi aku akan pergi meninggalkan orang yang aku sayangi.

Lamunanku terhenti ketika Eyang datang membawa bubur kacang hijau

“Let nich bubur kacang hijaunya udah Eyang buatin,” kata Eyang.

“Sini Yang biar aku makan aja,” kataku

Eyang menatapku ketika aku memakan buburnya. Ada kesedihan di raut wajahnya yang sudah agak keriput itu. Ia menatapku dengan penuh kasih sayang.

“Let besok kita ke rumah sakit lagi ya, Eyang khawatir dengan kamu,” kata Eyang sambil menyuapiku makan bubur kacang hijau.

“Ya Eyangku.” Aku menggoda Eyang sambil tertawa.

Eyang hanya tertawa dengan perkataanku. Meskipun aku tahu, bahwa di dalam hatinya ada sesuatu hal yang sangat membuatnya sedih.

“Udahlah Yang ada apa sich?” tanyaku

“Eyang Cuma khawatir dengan Papa dan Mama kamu,” jawabnya

“Ya udah sini biar Leta makan sendiri, Eyang istirahat,” kataku

“Ya,” ucapnya

Malam berganti begitu cepat sehingga pagi tiba, Eyang sudah bangun dan menyuruhku agar bergegas mandi untuk pergi ke rumah sakit. Aku tahu apa yang dilakukan Eyang. Beliau ingin tahu apakah benar aku mengidap kanker.

“Let…cepatan dikit dong!” Eyang berteriak-teriak

“Eyang sabaran dikit,” kataku

Aku dan Eyang akhirnya pergi ke rumah sakit diantar oleh Pakde. Beliau segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang disediakan oleh pihak rumah sakit.

Eyang akhirnya segera mencari dokter Lingxy. Namun, dokter Lingxy berhalangan hadir dan beliau telah menggantikan janji dengan menyuruh dokter Puila.

“Maaf Bu, saya telah membatalkan janji dengan Ibu. Tapi, saya telah menyuruh dokter Puila menggantikan pemeriksaan itu”. Kata Dokter Lingxy

“Baiklah saya maklum dokter memang sibuk, tapi apakah dokter Puila itu baik?” tanya Eyang melalui handphone.

“Dia itu asisten saya Bu, saya tahu apakah kerjanya bagus atau jelek, jadi Ibu dapat marahi saya jika dia macam-macam sama Ibu,” jawab Dokter Lingxy.

“Baiklah,” kata Eyang sambil memutuskan hubungan pembicaraannya.

Aku kemudian di bawa ke ruangan untuk diperiksa. Awalnya aku takut apakah vonis dokter yang pernah diberikan padaku bahwa aku menderita kanker darah sebelumnya itu benar.

Dokter Puila akhirnya selesai memeriksaku. Ia menyuruhku keluar dan kemudian ia memanggil Eyang untuk berbicara berdua.

“Ibu bisa ambil hasil tesnya besok, karena hasil ini belum cukup,” kata Dokter

Oke, saya akan ambil tesnya besok,” kata Eyang

Kami semua akhirnya kembali pulang, ditengah perjalanan kepalaku kembali pusing dan terasa sakit. Aku mencoba menahannya, namun aku sama sekali tidak kuat dan akhirnya kembali pingsan di mobil.

“Let kamu kenapa?” Eyang mengguncang tubuhku.

“Ibu tenang, sebentar lagi kita sampai di rumah,” kata Pakde

Tak lama aku tersadar, aku sudah ada di tempat berhiaskan gambar kartun kesayanganku Marsupillami.

“Leta udah bangun?” tanya seorang wanita yang tidak lain adalah Mama.

“Mama?” tanyaku sambil mencoba terbangun

“Let jangan bangun dulu. Kamu belum sehat,” kata seorang pria, bukan papa.

“Ini Dokter Lingxy Ta,” kata Eyang

“Kamu pergi! kamu sudah merusak hidup aku! kamu merebut Mama dari aku dan Papa! kamu perusak rumah tangga Mama dan Papa… kamu…aduh…,”aku belum sempat menyelesaikan ucapanku karena kepalaku kembali sakit.

“Let bangun saying,” Mama mengguncang tubuhku

Tak lama akupun tersadar, aku belum bisa terima pria itu selalu bersama Mama sepanjang waktu.

“Leta. maafin Om ya sayang, Om ini beneran ga tahu apa-apa,” kata Dokter Lingxy

“Pokoknya Leta ga mau ketemu kamu, pantas aja kamu tadi ga ada di rumah sakit, ternyata kamu pergi ke Tarakan untuk mengantar mama ke sini khan!” kataku kasar, karena aku merasa bahwa dokter Lingxy penyebab pertengkaran Mama Papa.

Dokter Lingxy akhirnya pergi dari kamarku. Dia langsung pergi dari rumah Eyang. Aku tahu pasti dia marah terhadap ucapanku. Tapi aku memang ingin dia pergi, karena aku kesal padanya.

Aku kemudian meminta Eyang untuk menelepon Papa agar pergi ke Tanjung Selor.

“Eyang,tolong teleponkan Papa agar Papa datang kesini, bilang kalo Leta pingin banget Yang,” kataku lemas

“Ya Leta cucuku, Eyang akan teleponkan Papamu saying,” kata Eyang sambil menahan tangis.

Eyang akhirnya menelepon Papa, beliau menyuruh Papa kembali ke Tanjung Selor, untuk menemuiku.

“Hallo, Assalamualaikum, Hedi segera kamu ke rumah Ibu sekarang juga, Leta ingin bertemu kamu,” kata Eyang

“Aduh apa sich Bu? Saya lagi meeting nich ga bisa batalin gitu aja,” kata Papa

“Pokoknya ini permohonan Leta, terserah kamu mau atau enggak, Ibu sudah beritahu kamu,Wassalam,” kata Eyang sambil menghentikan pembicaraannya dengan Papa.

Aku hanya memperhatikan wajah-wajah keluarga yang ada di hadapanku, tersimpan rasa sayang dari mereka, Eyang menangis melihatku terbaring. Begitu juga dengan Veila. Sepupu baikku.

“Kakak jangan lemes, ayo Kakak pasti bisa lawan semua itu,” katanya

Aku hanya tersenyum padanya. Aku tahu semua orang pasti berkata begitu, aku sudah bosan mendengar ocehan itu.

Aku akhirnya membuka suara di tengah keadaan sunyi ini.

“Ma…tolong batalkan perceraian Mama dan Papa,” pintaku pada Mama

“Maaf Sayang, Mama harus bercerai dengan Papamu,” kata Mama.

Tak lama kemudian ada suara mobil datang kerumah Eyang. Ternyata yang datang itu adalah Papa.

“Leta mana kamu?” Papa datang dengan wajah marah.

“Ini Leta Pa,” kataku

“Kamu tahu! Kamu nakal, Papa ada acara meeting, kamu nyuruh Papa datang ke Tanjung,” kata Papa kasar

Eyang marah melihat Papa datang dengan marah, Eyang juga tambah marah setelah mengetahui bahwa Papa datang tidak sendirian, melainkan bersama seorang wanita cantik yang sepertinya adalah sekretaris Papa.

“Hedi siapa wanita itu?” tanya Eyang

“Itu simpanannya Bu,” jawab Mama

“Jangan sembarangan kamu kalau ngomong,” kata Papa

“Buktinya sudah ada kok, kamu itu sering jalan sama wanita itu,” kata Mama

“Lagian saya juga sering lihat kamu jalan sama dokter itu,” kata Papa tak mau kalah.

Loch bukannya kamu juga?” tanya mama

“Sudah!.” Eyang berteriak keras sekali sehingga mereka langsung berhenti bertengkar.

Aku melihat wanita yang dibawa Papa itu, dia juga melihatku. Aku memberanikan diri untuk memintanya supaya jangan bersama Papa.

“Hai Tante cantik. Kamu memang terlihat cantik, kamu lebih cantik lagi ketika kamu pergi bersama orang lain bukan Papa, kamu bisa khan?” tanyaku pada wanita itu.

Wanita itu kemudian beranjak pergi dari kamarku. Papa marah dengan ucapanku terhadap wanita itu.

“Kamu kurang ajar Leta! kamu tahu siapa dia?” kata Papa

“Leta tahu Pa. dia itu seorang wanita,” jawabku

“Dasar kamu!” kata Papa.

Papa hendak pergi menghampiri wanita yang telah beranjak keluar itu. Namun, Pakde berhasil mencegahnya.

“Hedi! Kamu tahu tidak Leta sakit,” kata Pakde

“Dia itu hanya Bohong,” kata Papa.

“Hedi! Jangan kejar wanita itu!.” Eyang mencegah papa yang hendak beranjak pergi.

Papa akhirnya kembali ke kamarku dan melihatku penuh dengan kasih sayang. Papa sebenarnya sangat menyayangiku. Namun, hal itu tidak pernah dia lakukan lagi karena sibuk dngan kantor dan wanita itu.

Aku akhirnya memutuskan untuk meminta maaf kepada Mama dan Papa atas ucapanku terhadap orang yang mereka bawa tadi.

Ma Pa Leta minta maaf kalo Leta sudah salah, Leta mengusir Om tadi karena Leta ingin mama papa gak bertengkar. Leta juga minta maaf sama Tante tadi,” ucapku

Oww…ternyata Mama juga bawa dokter itu ya?hebat!” kata papa

“Papa juga bawa wanita itu,” kata Mama

“Cukup!” Veila berteriak

“Kenapa Vei?” tanya Eyang

“Acil dan Julak Hedi tahu gak? Leta tuh ingin kalian rukun, saling menyayangi, dan kembali bersatu. Kalian dulu sangat menyayanginya, Leta itu ingin Mama dan Papa yang dulu,” kata Veila.

Papa dan Mama hanya diam mendengar perkataan Veila. Mungkin mereka sadar bahwa mereka memang salah selama ini.

“Leta jadi apa maksud kamu menyuruh Mama dan Papa kesini?” tanya Papa

Aku akhirnya mengeluarkan kata-kata yang selama ini ingin ku ucapkan.

“Leta ingin Mama Papa jangan bercerai,” kataku

“Kenapa?” tanya Papa

“Gak apa-apa,” jawabku

“Tapi kenapa?” tanyanya lagi

“Pokoknya Papa Mama jangan cerai,” jawabku

“Leta ingin ciuman dari kalian seperti waktu aku masih kecil Pa…Ma,” pintaku

“Kamu pikir kamu masih TK? Kamu itu sudah kuliah Leta. Sudah besar saying,” kata Papa.

“Leta hanya mau ciuman dari kalian aja,” pintaku.

Eyang marah kepada Papa karena tidak ingin menciumku.

“Kenapa kamu begitu? Kamu sangat berlebihan. Leta itu masih kecil masih ingin merasakan kasih saying,” kata Eyang

“Pa..Ma Leta ingin di ULTAH Leta yang ke-19 ini, Mama dan Papa jangan bercerai saat ini,” kataku

“Iya Leta, Eyang tahu kamu ULTAH, kamu minta apa sama Eyang?” tanya Eyang.

“Leta gak minta apa-apa kok Yang, Leta udah seneng Eyang bantuin Leta,” jawabku

Eyang hanya tersenyum menatapku, pipinya yang keriput menjadi basah dengan air mata yang jatuh di pipinya.

Papa dan Mama akhirnya mewujudkan harapanku.

“Baiklah Let papa dan mama akan mencium kamu seperti waktu kamu masih TK,” kata mama.

“Ayo Pa kita cium Leta,” ajak mama.

Aku merasakan sentuhan kasih sayang yang slama ini hilang.

“Let…kamu kenapa?Let jangan tinggalkan Mama Let,” kata Mama

“Leta…jangan tinggalin Papa Let,” kata Papa

“Leta…Let…Let…,” Eyang mngguncang tubuhku

Mama, Papa, dan Eyang memelukku bersama-sama.

“Eyang, Kakak Leta menitipkan surat ini sama aku,” kata Veila

“Eyang baca ya,” kata Eyang

“Ma…pa…Leta tahu, mungkin Papa dan Mama tidak tahu kalau selama ini Leta sakit. Leta hanya ingin Mama Papa bahagia. Leta mohon Mama dan Papa jangan cerai,” Eyang menghapus air matanya yang sudah sejak tadi basah mengenai wajahnya.

Kedua orangtua Leta akhirnya tidak jadi untuk bercerai, mereka sadar bahwa selama ini Leta sangat menderita dengan kelakuan mereka. Mereka bahkan tidak sempat mewujudkan keinginan Leta, dan bisa mewujudkan keinginan terakhirnya dengan ciuman masa Taman Kanak-Kanak Leta.

S E L E S A I